Kamis, 24 Mei 2012

Makalah Sejarah Perkembangan Tarekat

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN TAREKAT
Diajukan untuk memenuhi tugas diskusi pada mata kuliah Akhlaq dan Tasawuf




Disusun oleh :
Edwin Mulyadi Iskandar
Humas A / VI




Sunan Gunung Djati
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Jurusan Ilmu Komunikasi Prodi Humas
Bandung
2012


Kata pengantar
Alhamdulillah atas izin dan keridhaan Nya lah makalah berjudul sejarah dan perkembangan terekat ini telah selesai saya susun. Tarekat sebagai organized mysticism menjadi pembicaraan yang cukup menarik. Pasalnya, oleh sebagian kalangan, tarekat dijadikan tertuduh bagi kemunduran Islam abad pertengahan. Perkembangan tarekat di abad ke 12/13 M, secara simplistik dikaitkan dengan penurunan pengaruh Islam secara sosio-politik-ekonomi-militer.
Kesimpulan ini tentu saja masih perlu diperdebatkan mengingat kesamaan masa belum tentu menunjukkan kausalitas dua peristiwa. Pun demikian, jika kedua peristiwa itu menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat, pertanyaan yang muncul adalah mana di antara dua peristiwa tersebut yang berposisi sebagai sebab dan mana yang akibat. Klarifikasi ini perlu dilakukan agar kita bisa melihat secara jernih dan obyektif sehingga terhindar dari kesimpulan yang kurang tepat.
Citra negatif tentang tarekat menunjukkan masih banyaknya masyarakat yang belum mengenal apa dan bagaimana tarekat sesungguhnya. Eksklusivitas gerakan tarekat bisa menjadi salah satu sebab ketidaktahuan publik atas gerakan mistik ini. Namun bukankah setiap komunitas pasti memiliki sisi eksklusif dan inklusif. Pada titik ini para praktisi mistik yang tergabung dalam tarekat perlu menyosialisasikan gerakannya untuk mengikis image negatif itu.
Untuk memberikan gambaran tentang tarekat, tulisan ini mencoba mengulas gerakan mistisisme Islam itu. Tentu saja tidak semua sisi gerakan tarekat bias ter-cover oleh tulisan ringkas ini. Akhir kata saya ucapkan terimaksih semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya. Mohon maaf atas segala kekurangannya, Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Edwin Mulyadi Iskandar



Daftar isi
Kata pengantar...............................  2
Pendahuluan...................................  4
BAB I
Pengertian Tarekat..........................  5
BAB II
Sejarah dan Perkembangan Tarekat.  6
BAB IV
Kesimpulan......................................  8
Daftar Pustaka..................................  9











Pendahuluan
Berbicara tentang perkembangan tarekat di Indonesia tentu tidak akan bisa lepas dari agama Islam berasal. Islam berasal dari jazirah Arab dibawa oleh Rasulullah, kemudian diteruskan masa Khulafa ar-Rasyidin ini mengalami perkembangan yang pesat. Penyebarluasan Islam ini bergerak ke seluruh penjuru dunia. Islam datang membawa rahmat bagi seluruh umat manusia.[1]
Tarekat berasal dari bahasa Arab : tarekaq, jamaknya tara’iq. Secara etimologi berarti : (1) jalan, cara (al-kaifiyyah); (2) metode, sistem (al-uslub); (3) mazhab, aliran, haluan (al-mazhab);[2] Menurut  istilah …tarekat berarti perjalanan seorang saleh (pengikut tarekat) menuju Tuhan dengan cara menyucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk dapat mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan [3]
Dalam tasawwuf seringkali dikenal istilah Thariqah, yang berarti jalan, yakni jalan untuk mencapai Ridla Allah. Dengan pengertian ini bisa digambarkan, adanya kemungkinan banyak jalan, sehingga sebagian sufi menyatakan, At thuruk bi adadi anfasil mahluk, yang artinya jalan menuju Allah itu sebanyak nafasnya mahluk, aneka ragam dan macamnya. Orang yang hendak menempuh jalan itu haruslah berhati hati, karena : Ada yang sah dan ada yang tidak sah, ada yang diterima dan ada yang tidak diterima. (Mu’tabarah. Wa ghairu Mu’tabarah)
Ada beberapa hal yang menjadi penting dalam pembahasan sejarah perkembangan tarekat di Indonesia, yakni :
1.       Sejarah pertumbuhan dan perkembangan tarekat
2.       Periodisasi sejarah perkembangan tarekat di Indonesia
3.       Penutup
1.       Pembahasan
1.       Sejarah dan perkembangan tarekat
Membicarakan tarekat, tentu tidak bisa terlepas dengan tasawuf karena pada dasarnya Tarekat itu sendiri bagian dari tasawuf. Di dunia Islam tasawuf telah menjadi kegiatan kajian keislaman dan telah menjadi sebuah disiplin ilmu tersendiri. Landasan tasawuf yang terdiri dari ajaran nilai, moral dan etika, kebajikan, kearifan, keikhlasan serta olah jiwa dalam suatu kehkusyuan telah terpancang kokoh. Sebelum ilmu tasawuf ini membuka pengaruh mistis keyakinan dan kepercayaan sekaligus lepas dari saling keterpengaruhan dengan berbagai kepercayaan atau mistis lainya. Sehingga kajian tasawuf dan tarekat tidak bisa dipisahkan dengan kajian terhadap pelaksananya di lapangan.
Tumbuhnya tarekat dalam Islam sesungguhnya bersamaan dengan kelahiran agama islam, yaitu ketika nabi Muhammad SAW diutus menjadi Rasul. Fakta sejarah menunjukkan bahwa pribadi nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Rasul telah berulang

kalibertakhannus atau berkhalwat di gua Hira. Disamping itu untuk mengasingkan diri dari masyarakat Mekkah yang sedang mabuk mengikuti hawa nafsu keduniaan.[4] Takhannus dan khlalwat Nabi adalah untuk mencari ketenangan jiwa dan kebersihan hati dalam menempuh problematika dunia yang kompleks. Proses khalwat yang dilakukan nabi tersebut dikenal dengan tarekat. Kemudian diajarkan kepada sayyidina Ali RA. dan dari situlah kemudian Ali mengajarkan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya sampai akhirnya sampai kepada Syaikh Abd Qadir Djailani, yang dikelal sebagai pendiri Tarekat Qadiriyah.[5]
Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali mengatakan bahwa : Tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui tahapan-tahapan/ maqamat. Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian,Pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brother hood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah. Bila ditinjau dari sisi lain tarekat itu mempunyai tiga sistem, yaitu: system kerahasiaan, sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syekh atau mursyid, wali atau qutub.

BAB I
Pengertian Tarekat
Pengertian Tarekat
Tarekat (Arab: Tariqah) berarti: 1. jalan, cara; 2. keadaan; 3. mazhab, aliran; goresan/garis pada sesuatu; 5. tiang tempat berteduh, tongkat paying; 6. yang terkenal dari suatu kaum.[1] Dalam pengertian istilahy, tarekat berarti: 1. pengembaraan mistik pada umumnya, yaitu gabungan seluruh ajaran dan aturan praktis yang diambil dari al-Qur’an, sunnah Nabi Saw, dan pengalaman guru spiritual; 2. persaudaraan sufi yang biasanya dinamai sesuai dengan nama pendirinya.[2]
Ilmuan Barat sering menyebut tarekat dengan istilah Sufi Order. Termaorder ini awalnya digunakan dalam kelompok-kelompok monastik besar Kristen seperti Fransiscan dan Benedictan. Pengertian order ini kemudian diluaskan kepada sekelompok manusia yang hidup bersama di bawah disiplin bersama. Sehingga kemudian terma order diterapkan penggunaannya pada tarekat. Meski demikian, istilah order dalam Kristen dan tarekat pada Islam memiliki titik-titik perbedaan, seperti aturan keharusan hidup membujang bagi rahib-rahib Kristen dan aturan legal yang ketat terpusat pada otoritas tunggal Paus berbeda dengan tarekat.[3] Perbedaan kedua istilah itu juga ditegaskan oleh Fazlur Rahman dengan melihat pengertian asal keduanya. Poin penekanan terma order terletak

pada aspek organisasi, sedangkan tarekat selain bermakna organized sufism, juga merupakan jalan sufi yang mengklaim memberikan bimbingan mistik manusia untuk mendekatkan diri dengan Tuhan. Karenanya, tarekat bisa eksis tanpa adanya sebuah organisasi persaudaraan. Tentunya, tegas Rahman, sebelum keberadaan organized Sufism telah ada tarekat yang bermakna school of sufi doctrine.[4]
Tarekat sebagai organized sufism hadir sebagai institusi penyedia layanan praktis dan terstruktur untuk memandu tahapan-tahapan perjalanan mistik yang berpusat pada relasi guru murid; otoritas sang guru yang telah mendaki tahapan-tahapan mistik harus harus diterima secara keseluruhan oleh sang murid. Ini diperlukan agar langkah murid untuk bertemu dengan Tuhan dapat terlaksana dengan sukses.

BAB II
Sejarah dan Perkembangan Tarekat
Sejarah Perkembangan Tarekat
Tarekat telah dikenal di dunia Islam terutama di abad ke 12/13 M (6/7 H) dengan hadirnya tarekat Qadiriyah yang didasarkan pada sang pendiri Abd Qadir al-Jilani (1077-1166 M), seorang ahli fiqih Hanbalian yang memiliki pengalaman mistik mendalam. Setelah al-Jilani wafat, ajaran-ajarannya dikembangkan oleh anak-anaknya dan menyebar luas ke Asia Barat dan Mesir.[6] Tarekat Qadiriyah ini mengikuti corak tasawufnya al-Gazali, yaitu tasawuf suni.[7]
Meski marat di abad tersebut, embrio tarekat telah ada sejak abad ke 3 / 4 H dengan munculnya Malamatiyah yang didirikan oleh Hamdun Al-Qashshar, Taifiyah yang mengacu pada Abu YAzid al-Bistami, al-Khazzaziyah yang mengacu pada Abu Said al-Khazzaz. Namun tarekat-tarekat ini masih dalam bentuk yang sederhana.[8]
Sufisme abad 3-4 H merupakan kritik terhadap kemewahan hidup para penguasa dan kecenderungan orientasi hidup masyarakat muslim pada materialisme. Keadaan ini memberikan sumbangsih pada terjadinya degradasi moral masyarakat.[9] Keadaan politik yang penuh ketegangan juga memberikan peran bagi pertumbuhan sufisme abad tersebut. Dalam konteks ketegangan politik ini terdapat beberapa daerah yang berkeinginan memisahkan diri dari kekuasaan Bani Abbas. Ada dua model pemisahan tersebut: pertama, secara langsung memberontak. Ini dilakukan oleh sisa-sisa kekuatan Umayyah yang selamat. Mereka mendirikan kekuatan baru di Andalusia. Halserupa juga

dilakukan oleh Bani Idrisiah di Maroko. Cara kedua dengan pembangkangan membayar upeti kepada kekuasaan pusat. Daerah-daerah ini secara perlahan kemudian memisahkan diri dari pusat atau sekedar mengakui pusat secara formalitas. Ini dilakukan oleh, seperti, Daulah Aghlaliyah di Tunis dan Tahiriyah di Khurasan.[10]
Kondisi politik yang tegang tersebut tidak lepas dari ketidakmampuan pemimpin Abbasiyah mengendalikan para pembantunya. Bahkan para pemimpin Abbasiyah hanya menjadi pemimpin secara de jurede facto-nya yang memimpin adalah pejabat-pejabat dari bangsa-bangsa yang banyak masuk kekuasaan, seperti Arab, Persia, atau Turki. Seperti diketahui kekuasaan pemerintahan di tangan Bani Abbas secara total terjadi di awal pemerintahan, yaitu pada pertengahan abad ke 8 hingga pertengahan abad ke 9 M, dan di akhir pemerintahan ketika kekuasaannya hanya tersisa di sekitar Baghdad pada awal abad ke 11 hingga pertengahan abad ke 13 M. Di antara kedua era tersebut Bani Abbas hanya menjadi simbol kekuasaan, pengambil dan pelaksana kebijakan bergilir dan bersaing antara bangsa Arab, Persia, dan Turki. Di tengah kedua era tersebut semangat chauvinisme begitu kuat di tengah masyarakat.[11]
Maraknya praktek sufisme dan tarekat di abad ke 12-13 M juga tidak lepas dari dinamika sosio-politik dunia Islam. Abad ke 11-13 M merupakan zaman disintegrasi politik Islam. Kekuasaan khalifah menurun dan akhirnya Baghdad dirampas dan dihancurkan oleh Hulagu Khan di tahun 1258. Kekhalifahan sebagai lambang persatuan umat Islam telah tiada. Di abad ke 13-15 M disintegrasi semakin meningkat. Pertentangan antara Syiah-Sunni dan Arab-Persia semakin meningkat. Dan umat Islam pun memasuki “the dark ages”-nya.[12]
Di tengah instabilitas politik inilah sebagian umat Islam mencoba mempertahankan tradisi keberislamannya dengan melakukan oposisi diam(silent opposition) dengan menyebarkan aspek esoterisme Islam ke tengah-tengah masyarakat dalam bentuk tarekat-tarekat. Sikap ini dapat diperbandingkan dengan respons umat Islam Nusantara terhadap kekuasaan kolonial Belanda dengan mendirikan pesantren-pesantren untuk mempertahankan identitas dan praktek keberislaman mereka.[13]
Perkembangan tarekat dibagi oleh Harun Nasution menjadi tiga, yaitu: 1. tahap Khanaqah, di mana para shaykh mempunyai sejumlah murid yang hidup secara bersama-sama di bawah peraturan yang tidak terlalu ketat. Shaykh menjadimurshid yang dipatuhi. Kontemplasi dan latihan-latihan spiritual dilakukan secara individual dan kolektif. Ini terjadi sekitar abad ke 10 M;[14] 2. tahap tariqah di abad ke 13 M. Di tahap ini ajaran-ajaran, peraturan, dan metode-metode tasawuf di tarekat telah dimapankan. Juga muncul pusat pengajaran tasawuf dengan silsilahnya masing-masing;

3.tahap taifah. Terjadi sekitar abad ke 15 M. Di sini terjadi transmisi ajaran dan peraturan kepada pengikut. Muncul juga tarekat dengan cabang-cabang di tempat lain. Di tahap ini tarekat memiliki makna sebagai organisasi sufi yang melestarikan aaran shaykh tertentu.[15]

BAB III
Kesimpulan
Tarekat merupakan gerakan sosial yang terus mengalami perkembangan seiring dengan perubahan waktu dan tempat berpijaknya. Tulisan ini hanya sekedar catatan awal yang mencoba mengantarkan kita memasuki gerbang pengetahuan tentang tasawuf dan, khususnya, gerakan tarekat. Ada banyak hal yang belum tersentuh oleh tulisan ringkas ini. Tentunya, hal ini membuka pintu-pintu bagi penulis lain untuk mengungkapkannya secara jelas dan terperinci. Allahu A`lam.
Adapun kesimpulan dari sejarah dan perkembangan tarekat adalah sebagai berikut :
1.       Berdasarkan Uraian sebelumnya dapat difahami bahwa Tarekat sebanarnya telah ada Sejak munculnya Islam yakni tatkala Rasulullah SAW melakukan Takhannus atau berkhalwat di Gua Hira. Apa yang dilakukan Rasullah ini selain untuk mencari ketenangan hati dan kebersihan jiwa juga yang terpenting adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan khusyu. Sebagaimana pula halnya para penganut tarekat pada umumnya yang berusaha memaknai hidup ini dengan berusaha semaksimal mungkin mendekatkan diri kepada  Allah SWT melalui Tarekat.
2.       Banyaknya Tarekat-tarekat yang tumbuh dan berkembang di Dunia Islam (Dinasti-dinasti Islam di Persia atau Jazirah arab dan sekitarnya) berdampak pula dengan menyebarkan Tarekat-tarekat ini di Nusantara. Diantara Faktor yang menyebabkan cepatnya tarekat ini berkembang di Nusantara adalah karena jalur perdagangan melalui laut yang sudah lancer yang bisa menghubungkan satu daerah dengan daerah lain di Nusantara bahkan di Dunia, Faktor lainnya adalah adanya kesadaran Ulama-ulama Indonesia untuk mendalami ilmu agama khususnya di luar Nusantara seperti di Makkah.
3.       Tarekat tidak bisa dibatasi dari aspek pemaknaan saja bersadarkan pemahaman yang telah berkembang sebelumnya yakni bahwa Tarekat merupakan jalan atau metode yang ditempuh untuk mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Allah SWT. Kenyataannya bahwa Tarekat itu memiliki makna lain yang bisa lebih spesifik misalnya Tarekat di maknai sebagai faham Mistik yang dapat mendatangkan kekuatan gaib dan semacamnya.


Daftar Pustaka
Abu Hamid, Syeikh Yusuf Tajul Khalwat; Suatu Kajian Antropologi Abu al-Wafa al-Ghanimi al-Taftazani, Madhal Ila al-Tasawuf al-Islamy Ali, Daud M, Hukum Islam Pengantar: Hukum dan tata Hukum Islam diIndonesia Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995
Azra Azyumardi, Islam di Asia Tenggara : Pengantar Pemikiran dalam Azyumardi Azra(Peny), Perpektif Islam diAsia Tenggara, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1989
Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia, Bandung:Mizan, 1998
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam,jilid 5,Jakarta: Ictiar Baru Van Hoeve, Cet IV, 1997
http://www.Sufiesnews.com-Tarekat Laili Mansur, H.M, Ajaran dan Teladan para sufi, Jakarta: Srigunting,1996
Mubarok Jaih, Sejarah Peradaban Islam”, Bandung:Pustaka Bani Quraisy, Cet II, 1995
Mansur Ahmad Suryanegara,Menemukan Sejarah Rencana Pergerakan Islam di Indonesia,Mizan Cet IV, 1998
Pijper, GF, Fragmenta Islamica: Beberapa tentang Studi tentang Islam di Indonesia abad 20, terjemahan oleh Tudjiman,Jakarata: UI Press, 1987 Snouck Hurgronje,C, Aceh:Rakyat dan Adat Istiadatnya (1), Jakarta INIS, 1997
Sri Mulyati (et.al), Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia,Jakarta: Kencana,Cet II, 2005
Thohir Ajid, Gerakan Politik Kaum Tarekat: Telaah Historis Gerakan Politik Antikolonialisme Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah di Pulau Jawa,Bandung, Pustaka Hidayah, Cet I, 2002
[1] Louis Ma’luf, Al-Munjid fi al-Lugah wa al-A’lam (Beirut: Dar al-Mashriq, 1992), 565
[2] Jean Louis Michon, “Praktek Spiritual Tasawuf” dalam Syed Hossein Nasr (ed), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, terj. Rahmani Astuti (Bandung: Mizan, 2002), 357-394
[3] Carl W Ernst, The Shanbala Guide to Sufism (Boston&London: Shanbala Publ., 1997), 120
[4] Fazlur Rahman, Islam (Chicago & Lonon: University of Chicago Press, 1979), 156-157s
[5] Ibid., 156
[6] William Montgomery Watt, Islam, terj. Imron Rosyidi (Yogyakarta: Jendela, 2002), 158
[7] Alwi Shihab, Islam Sufistik (Bandung: Mizan, 2001), 172
[8] Ibid.
[9] Aboe Bakar Atjeh, Pengantar Ilmu Tarekat (Solo: Ramadhani, 1993), 74

[10] Lihat CE Bosworth, Dinasti-dinasti Islam, terj. Ilyas Hasan (Bandung: Mizan, 1993), 29-30. Juga Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: PT Raja Grafino Persada, 2000), 64
[11] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab (Ciputat: Logos, 1997), 89
[12] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), 13-14. Menyebut abad tersebut sebagai abad kegelapan sesungguhnya kurang tepat mengingat saat itu umat Islam juga menghasilkan banyak karya di bidang sastra dan arsitektur. Untuk mengetahui lebih jauh kondisi umat Islam abad pertengahan, baca Syafiq A Mughni, Dinamika Intelektual Islam pada Abad Kegelapan (Surabaya: LPAM, 2002).
[13] Mengenai sikap umat Islam Nusantara tersebut, baca Azyumardi Azra,Pendidikan Islam (Jakarta: Logos, 1999), terutama bagian kedua.
[14] Tahapan pertama ini adalah lingkaran murid mengelilingi gurunya yang disebut Khanaqah, Zawiyah, Khalwa atau Ribat. Meski memiliki pengertian yang sama, yaitu biara sufi, istilah-istilah tersebut mengandungi sedikit perbedaan. Khanaqah lebih merupakan tempat peristirahatan bagi traveller sufi atau jamaah haji. Tempat ini digunakan pertemuan dan shalat secara berkala ketika anggota lingkaran bepergian selama setahun atau lebih. Di Khanaqah, dalam hubungan guru-murid, tidak secara kaku tersentral pada figur guru. Official Khanaqah berperan lebih sebagai adiministrator dari pada sebagai pengembara ruhani. Ribat didirikan di daerah perbatasan sebagai biara Muslim di lingkungan non-Muslim. Figur shaykh menjadi pusat aktivitas. Sedang Zawiyyah berbentuk lebih kecil dan berpusat pada shaykh. Zawiyyah awalnya tidak permanent, khususnya ketika sang guru bepergian. Baca J Spencer Trimingham, The Sufi Orders in Islam (London, Oxford & New York: Oxford Univ Press, 1973), 5, 6, 166, 168, dan 169
[15] Harun Nasution, Islam Rasional (Bandung: Mizan, 1996), 366

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar